Tingkatkan Kompetensi Tendik, Unpad Adakan Pelatihan Virtual Pengelolaan Website 2020

Universitas Padjadjaran kembali mengadakan pelatihan pengelolaan website 2020 bagi tendik di lingkungan Unpad. Pelatihan dilakukan secara virtual melalui aplikasi google meet , Kamis (4/6). Peserta yang hadir berjumlah 65 orang yang berasal dari unit kerja di lingkungan Unpad.

Menurut  Ketua Panitia kegiatan Pelatihan Pengelolaan Website 2020 Oki Mahendra, pelatihan ini merupakan upaya penataan Sistem, Manajemen Konten, dan Pengembangan SDM untuk mendukung  perbaikan kinerja website dalam mendukung sasaran strategis Unpad.

Oki menambahkan pelatihan pengelolaan website ini dilakukan berbeda dengan pelatihan sebelumnya. Selain dilaksanakan secara virtual, waktu pelatihan pengelolaan website ini dilakukan dari Juni sampai September 2020.

“Pelatihan tahun ini berbeda, waktunya lumayan lama, mulai Juni sampai September. Dan agendanya antara lain presentasi dari narasumber secara virtual, praktikum, dan tugas mandiri “ ujarnya.

Di hari pertama Pelatihan pengelolaan website  kali ini menghadirkan beberapa nara sumber antara lain Dandi Supriadi, S.Sos., MA (SUT)  dari Kepala Kantor Komunikasi Publik Unpad yang menyampaikan topik “Menjadi Publisher Web Content -Protokol Kehumasan” .  Nara sumber lainnya datang dari praktisi yaitu Erwin Kustiman selaku Dewan Redaksi Pikiran Rakyat dengan mengangkat topik “Teknik Mencari dan Menulis Berita”. Adapun sebagai moderator yaitu Erman Hardiman dari Kantor Komunikasi Publik Unpad.

Dalam paparannya, Dandi menyampaikan perbedaan karakter antara publisher humas dan jurnalis. Menurutnya publisher humas bekerja sebagai wakil dari instansi sehingga harus menampilkan fakta dan citra positif instansi yang diwakilinya. “hal yang membedakan publisher humas dan jurnalis menurut saya, humas lebih menonjolkan hal baik dari instansinya sedangkan jurnalis lebih menonjolkan berita sensasional yang bisa jadi berita buruk bernilai tinggi”ujarnya.

Lebih lanjut dosen fakultas ilmu komunikasi unpad  itupun menambahkan bahwa publisher humas menjadi cerminan dari instansi yang diwakilinya. Oleh karena itu, pemberitaan yang bersumber dari humas sebuah instansi menunjukkan sikap dari instansi tersebut. “ bagi publisher jurnalis, berita yang disampaikan karena kepenasaran masyarakat dan untuk masyarakat, sedangkan humas lebih karena sikap instansinya, sehingga humas adalah cerminan dari instansi yang diwakilinya. Karena itu humas harus lebih berhati-hati menyampaikan berita, jangan ngaku-ngaku sebagai humas sebuah instansi”  tambahnya.

Konsekuensi lain menurut Dandi, sebagai humas harus memiliki kemampuan membuat konten yang mumpuni, seperti halnya jurnalis. “berita yang dibuat humas sebuah instansi kemudian dijadikan sumber oleh jurnalis, menunjukkan kualitas humas tidak kalah dengan jurnalis, kemampuan Ini yang harus kita miliki “ pungkasnya.

Sementara itu, Erwin Kustiman dalam paparannya menjelaskan tentang teknik mancari dan menulis berita. Menurutnya, seperti yang dikutip dari pendapat Prof. Curtis MacDougal, berita ialah apa saja yang pembaca ingin tahu, yang baru terjadi, dan menarik hati orang.

“menurut saya secara ringkas berita itu berasal dari kepenasaran atas sebuah peristiwa, keinginan-tahuan masyarakat itu yang kemudian jadi laporan peristiwa terbaru” ungkapnya.

Lebih lanjut Erwin menambahkan tantangan seorang wartawan harus  membuat hal yang penting menjadi menarik dan relevan. Penting diukur dari seberapa besar dampak yang diakibatkan oleh pemberitaan itu sedangkan  relevan menunjukkan sejauh mana berita itu mempengaruhi kehidupan pembaca.

“kampus bagi saya merupakan sumber berita, karena itu banyak orang dan kejadian penting disana, nah tantangannya adalah bagaimana kita membuat kejadian penting itu menarik bagi pembaca dan mempengaruhi mereka” ujarnya.

Diakhir paparannya,Erwin yang juga alumni Fikom Unpad tahun 1993 itu mengatakan wartawan haruslah terikat dengan kode etik jurnalistik. Mencari dan menulis berita haruslah berimbang, tidak beritikad buruk, profesional dan tidak menebar berita bohong dan fitnah. Hindari penyalahgunaan profesi dan hormati kehidupan pribadi sumber.

“ Masyarakat dapat mengadukan pelanggaran etika jurnalistik kepada Dewan Pers. Hal yang dapat diadukan adalah karya jurnalistik, perilaku, dan atau tindakan wartawan yang terkait dengan kegiatan jurnalistik”pungkasnya.

Diakhir sesi ini, moderator memberikan tugas mandiri kepada para peserta pelatihan untuk meningkatkan pemahaman terhadap materi yang disampaikan nara sumber.

Laporan : Dani Wahdani