Sapta Nirwandar : Potensi Besar Industri Halal Indonesia harus digarap serius

Ketua Indonesia Halal Lifestyle Centre (IHLC) Sapta Nirwandar mengatakan, Industri halal pada tahun ini menjadi sektor prioritas yang dikembangkan oleh pemerintah melalui master plan Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) 2019. Hal itu dikemukakan Sapta saat menjadi pembicara pada Kuliah Umum “Strategi dan Roadmap Indonesia sebagai Pusat Halal Lifestyle dan Halal Industry Dunia” di Aula Magister Manajemen Unpad Jl. Dipatiukur 46 Bandung, Kamis (31/10).

Dr. Sapta Nirwandar SE Selaku Ketua Indonesia Halal Lifestyle Centre (IHLC) saat memberikan Kuliah Umum di Aula Magister Manajemen Unpad Jl. Dipatiukur 46 Bandung, Kamis (31/10).

Kegiatan itu terselenggara atas kerjasama Program studi Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran dengan Indonesia Halal Lifestyle Centre (IHLC) dan Bank Jabar Banten. Wakil Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran Mohamad Fahmi, S.E,M.T.,Ph.D membuka kegiatan tersebut.

Dalam sambutannya, Fahmi mengatakan kegiatan ini diharapkan dapat menginspirasi ide-ide dalam penulisan skripsi dan karya ilmiah terutama pada bidang Ekonomi Islam, sehingga diharapkan mahasiswa dapat lulus tepat waktu.

“ Tanggung jawab prodi adalah menjadikan mahasiswa lulus tepat waktu, nah diharapkan kegiatan ini bisa menjadi referensi buat memilih judul skripsi atau jurnal internasional” ungkapnya.

Lebih lanjut Fahmi menambahkan tentang topik yang disampaikan pada kegiatan kuliah umum memang sangat ambisius, tapi diharapkan ini menjadi pengembangan ekonomi Islam secara keilmuan tentang industri halal.

“Ada kesan topik ini sangat ambisius, namun ya ini diharapkan bisa meningkatkan pengembangan ekonomi islam dan Indonesia menjadi pusat industri halal dunia” pungkasnya.

Dalam uraian kuliah umum yang disampaikan oleh Dr. Sapta Nirwandar SE, menjelaskan kondisi ekonomi saat ini dengan belanja (spending) yang sangat besar yakni 218,8 miliar dolar AS pada 2017, berdasarkan laporan Global Islamic Economy, Indonesia merepresentasikan pasar industri halal terbesar di dunia. Nilai ini akan terus bertambah sekitar Compound Annual Growth Rate (CAGR) atau rasio pertumbuhan rata-rata gabungan lima sampai enam persen per tahun.

Namun, posisi Indonesia secara global masih belum dapat melampaui besarnya potensi tersebut, yakni peringkat 10 dari 15 negara tertinggi dalam perkembangan ekonomi syariah.

“Sektor wisata halal merupakan sektor yang akan mendorong pertumbuhan industri halal di Indonesia” ungkapnya.

Apalagi saat ini pemerintah juga sudah fokus untuk destinasi halal. Karena wisata telah menjadi gaya hidup masyarakat sehingga potensinya harus dimanfaatkan. Berdasarkan data laporan Global Islamic Economy Summit, belanja wisata halal tercatat turn over 184 miliar dolar AS pada 2017, terutama dari negara-negara Gulf Cooperation Council (GCC) yang jumlahnya relatif sedikit, tetapi mempunyai rata-rata spending sampai 5.000 dolar AS per kunjungan. Pada 2023, diperkirakan pangsa pasar wisata halal akan mencapai 177 triliun dolar AS.

Peningkatan sektor riil halal melalui wisata halal ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan produk keuangan syariah. “Kalau demand besar (sektor riil), maka perbankan syariah bisa lebih berkembang,” kata Sapta.

Sementara itu sektor makanan dan minuman halal, saat ini telah menjadi sektor dengan potensi terbesar di Indonesia. Pada 2018, belanja produk makanan dan minuman halal Indonesia mencapai 170,2 miliar dolar AS. Sektor ini merupakan yang terbesar dari industri halal, dan dapat berkontribusi sekitar 3,3 miliar dolar AS dari ekspor Indonesia ke negara-negara Organisasi Kerjasama Islam (OKI), sekaligus negara-negara non OKI dengan jumlah penduduk Muslim jutaan, seperti Prancis dan Inggris.

Lebih lanjut Kang Sapta, panggilan akrab beliau sebagai Alumni FEB Unpad tahun 1974, mengatakan ada tiga peluang yang bisa dijadikan strategi dalam pengembangan potensi industri halal di Indonesia yaitu Domestic Consumption and Growth, Exports dan Import Substituion. Ketiganya bisa meliputi makanan, fesyen, obat-obatan, kosmetik dan Pariwisata.

IHLC bersama dengan Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS), Bank Indonesia (BI), dan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), akan bersama-sama membangun industri halal Indonesia agar bisa masuk ke pasar global.

Laporan oleh Dani Wahdani/lws
Foto : Dadan Hamdani, Arini Rusyda, wulan