Rekomendasi Manajemen Kas Pada Entitas Bisnis Akibat Pandemi Covid-19

Pendahuluan
Penyebaran Covid-19 di luar Tiongkok semakin cepat dan signifikan, berbanding terbalik dengan kondisi di Tiongkok yang terlihat sudah mulai pulih dari wabah . Covid-19 telah menyebar ke 204 negara di seluruh dunia dan terdapat 1.016.330 kasus Covid-19 yang telah terkonfirmasi (Worddometers.info data 29 Maret 2020).

Implikasi pandemi Covid-19 telah berdampak pada terganggunya sebagian besar aktivitas bisnis di semua sektor termasuk sektor keuangan sehingga diprediksi dapat mengakibatkan perlambatan pada pertumbuhan ekonomi global dan nasional. Proyeksi dari OECD menyatakan bahwa pertumbuhan global menjadi 2,4% dari 2,9%, dan bahkan bisa jatuh serendah-rendahnya 1,5% . Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan bahwa skenario terburuk dari dampak pandemi Covid-19 yaitu pertumbuhan ekonomi Indonesia berpotensi turun menjadi 2,3% pada skenario berat dan berlanjut menjadi -0,4% pada skenario sangat berat .

Salah satu bentuk komitmen Pemerintah dalam menangani pandemi Covid-19 dan dampaknya terhadap perekonomian adalah dengan diterbitkannya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk Penanganan Pandemi Covid-19 dan/atau dalam rangka Menghadapi Ancaman yang Membahayakan Perekonomian Nasional dan/atau Stabilitas Sistem Keuangan. Dalam Perppu tersebut dijelaskan bahwa sejumlah kebijakan diambil seperti mengalokasikan tambahan belanja dan pembiayaan APBN Tahun 2020 untuk penanganan Covid-19, menetapkan batasan defisit anggaran melampaui 3% paling lama sampai dengan berakhirnya tahun anggaran 2022, serta memberikan dukungan untuk penanganan permasalahan lembaga jasa keuangan.

Pemerintah mengucurkan tambahan anggaran sebesar Rp 405,1 triliun yang selanjutnya akan diperuntukkan kepada sejumlah bidang penanganan yaitu Rp75 triliun untuk bidang kesehatan, Rp110 triliun untuk jaring pengaman sosial, Rp70,1 triliun untuk insentif perpajakan dan stimulus Kredit Usaha Rakyat serta Rp150 triliun untuk program pemulihan ekonomi nasional .

Dampak Pandemi Covid-19 Pada Operasional Bisnis Entitas Swasta
Tiongkok merupakan pemasok dan penghasil bahan baku utama yang diandalkan, sehingga ketika negara tersebut terserang Covid-19 maka negara-negara lain dalam supply chain ikut terganggu. Kebijakan social distancing hingga lockdown mengakibatkan terganggunya hingga terhentinya aktivitas usaha, seperti di sektor pariwisata.
Indonesia sendiri sudah merasakan dampak dari pandemi Covid-19 terhadap ekonomi. Sejak mewabahnya Covid-19 di Indonesia, nilai tukar rupiah terhadap USD mengalami pelemahan hingga menjadi hampir Rp. 17.000, dan diprediksi bisa mencapai Rp. 20.000 .
Secara spesifik, implikasi dari pandemi Covid-19 pada operasional bisnis dapat dijabarkan sebagai berikut

  • Idle Facilities
    Sejumlah pusat perbelanjaan di kota-kota besar tutup, dan hingga hari ini terdapat 862 hotel yang tutup karena minimnya pengunjung . Besar juga kemungkinan bahwa pabrik-pabrik manufaktur tidak akan beroperasi pada kapasitas biasa dikarenakan permintaan produksi turun.
  • Supply Chain Disruption
    Kondisi dunia yang mengalami lockdown menyebabkan terganggunya siklus pengadaan barang. Banyak pabrik produksi yang menghentikan sementara kegiatan operasionalnya atau mengurangi produksi dan merumahkan karyawan. Konsumen yang membutuhkan barang-barang produksi tersebut otomatis juga akan terganggu siklus operasionalnya. Menurut Sekretariat Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono, Indonesia masih memiliki stok bahan baku untuk industri manufakturnya, tetapi persediaan diproyeksikan akan habis dalam beberapa minggu ke depan .
  • Pembatalan Rencana strategis
    Terhentinya rencana-rencana strategis perusahaan seperti rencana ekspansi, penambahan investasi, dan juga penambahan pinjaman.
  • Deficit Cash Flow
    Menurun hingga terhentinya aktivitas usaha secara langsung mengakibatkan terhentinya pula pemasukan cash flow ke dalam perusahaan, sementara di sisi lain perusahaan tidak bisa secara otomatis menghentikan pula pembayaran atas biaya operasional perusahaan terutama untuk gaji karyawan dan pembayaran kewajiban/hutang yang telah jatuh tempo.

Rekomendasi Manajemen Kas Untuk Entitas Bisnis Pada Masa Pandemi Covid-19
Banyak ketidakpastian kondisi keuangan yang harus diantisipasi entitas bisnis dalam menanggulangi dampak dari pandemik Covid-19, tidak hanya untuk jangka pendek tetapi juga dalam jangka panjang. Oleh karena itu, CAS Unpad memberikan rekomendasi mengenai hal apa saja yang dapat dilakukan entitas bisnis dalam situasi luar biasa:

  1. Lakukan penilaian untuk mengetahui tingkat kesulitan keuangan (financial distress) yang dialami perusahaan
    Berbagai pendekatan dapat digunakan antara lain pendekatan balance sheet (seperti analisis modal kerja netto), pendekatan income statement, model analisa kepailitan (Model Altman Z-Score dan lainnya) dan pendekatan lainnya.
  2. Reviu kembali rencana capital expenditure dan operating expenditure
    Perusahaan dapat melakukan reviu atas capital expenditure (capex) dan operating expenditure (opex) dengan menggunakan skala prioritas. Dengan melakukan reviu tersebut, Perusahaan dapat menentukan mana saja capex dan opex yang harus dipenuhi, yang dapat ditunda atau yang dapat dihilangkan. Selama pandemi Covid-19, Perusahaan dapat melakukan penundaan pembelian aset dan menghilangkan biaya perjalanan dinas, biaya pelatihan atau biaya rapat.
  3. Manfaatkan peluang skema dalam Perppu Nomor 1 Tahun 2020
    Program pemanfaatan skema dalam Perppu Nomor 1 Tahun 2020 yang dapat dimanfaatkan oleh entitas bisnis diantaranya relaksasi pajak, pembebasan atau keringanan bea masuk, pemberian stimulus kredit usaha, dan repo Surat Utang Negara atau Surat Berharga Syariah Negara. Dalam rangka pemulihan ekonomi nasional, pemerintah pun memberikan Penyertaan Modal Negara (PMN), penempatan dana dan/atau investasi Pemerintah, dan/atau kegiatan penjaminan.
  4. Lakukan Refocusing Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP)
    Hasil reviu prioritas capex opex menjadi dasar dalam refocusing RKAP. Dalam melakukan refocusing RKAP, perusahaan memformat ulang rencana kerja dan anggaran perusahaan yang lebih sesuai dengan kondisi keuangan perusahaan pada masa sulit, namun tetap berorientasi pada pertahanan agar tidak terjadi collapse.
  5. Tetapkan Business Continuity Plan (BCP)
    Yang penting untuk dilakukan oleh entitas swasta di masa pandemik Covid-19 ini bukanlah tentang bagaimana agar memperoleh laba (how to earn profit), tetapi bagaimana agar bisnis tetap berjalan. Setelah melakukan koreksi RKAP, yang harus dilakukan oleh perusahaan adalah menetapkan rencana atas keberlangsungan bisnis perusahaan. BCP dapat diimplementasikan dengan melakukan hal-hal berikut ini:
    • Menetapkan ruang lingkup BCP
    Penetapan ruang lingkup ini harus memprioritaskan area-area kritis yang perlu dilindungi dan perlu tetap berjalan saat terjadi bencana dan        pasca terjadinya bencana
    • Menetapkan Business Impact Assessment (BIA)
    Perusahaan harus membuat diagram atas dampak yang akan terjadi pada perusahaan saat terjadinya bencana dan pasca terjadinya bencana. Bencana tentu akan berdampak pada dua hal, yaitu dampak kuantitatif yang dapat didenominasi dalam bentuk uang dan dampak kualitatif yang berhubungan dengan operasional.
  6. Lakukan Creative Cash Management
    Apabila rekomendasi pertama hingga kelima telah dilakukan, namun kondisi keuangan perusahaan tetap bermasalah, maka perusahaan harus memikirkan hal-hal lain yang lebih kreatif untuk mempertahankan kelangsungan perusahaan. Kas adalah raja dalam kondisi binis yang sulit. Jika solusi yang ditawarkan tidak dapat direalisasikan perusahaan dapat melakukan beberapa alternatif berikut:
    • Menjual persediaan yang cepat kadaluarsa dengan diskon besar
    • Mengoptimalkan e-commerce, jalur pemasaran dan penjualan online
    • Memanfaatkan skema penjualan tunai kepada perusahaan yang memiliki likuiditas baik
    • Menagih piutang pada perusahaan yang kuat secara tepat waktu
    • Melepas aset investasi jangka pendek
    • Menjual aset-aset yang tidak produktif
    • Menunda distribusi dividen tunai
    • Menjadwalkan ulang pembagian bonus
    • Mengajukan restrukturisasi hutang
    • Mengajukan penangguhan pembayaran leasing/sewa
    • Penambahan setoran modal oleh pemegang saham
    • Meminjam dana dari pemegang saham
    • Meminjam dana dari sumber internal
    • Mencari hutang jangka pendek yang bersifat soft loan untuk kekurangan dana membayar gaji dan membayar hutang kepada perusahaan kecil
    • Melakukan fund raising melalui aktivitas filantropi.

Optimalisasi pemenuhan tanggung jawab sosial merupakan langkah yang baik bagi perusahaan yang memiliki kondisi keuangan yang cukup elastis (resilient).*****

Artikel ini disusun berdasarkan hasil diskusi Focus Group Discussion dosen-dosen akuntansi UNPAD pada tanggal 2 April 2020 yang diikuti oleh 16 orang dosen.

Artikel ini tidak mewakili opini Universitas Padjadjaran sebagai institusi. Center for Accounting Studies Unpad adalah salah satu pusat studi dalam naungan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran.

Pertanyaan terkait artikel dapat dikirim ke email : pusatstudiakuntansi@fe.unpad.ac.id