Prof. Dr. Nury Effendi SE, MA : Profil Sang Guru Besar Yang Bijaksana

Nury Effendi adalah dosen senior di Departemen Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Padjadjaran. Ia memperoleh gelar sarjana ekonomi dari Universitas Padjadjaran (1983), gelar Master di bidang ekonomi dari Ohio State University, USA (1987), dan Ph.D dalam bidang ekonomi dari Oklahoma University, USA (2000). Minat penelitiannya adalah di bidang ekonomi keuangan dan ekonometrik. Penelitiannya baru-baru ini adalah tentang dampak aksi korporasi terhadap persepsi publik dan daya saing regional di Indonesia.

Baru-baru ini kabar gembira hadir pada sosok yang bijaksana ini, anugerah gelar profesor di bidang ekonomi dari Kemenristekdikti disematkan kepadanya. Berdasarkan SK Kemenristekdikti secara resmi gelar profesor disematkan kepadanya.

Disela-sela kesibukan setelah menguji mahasiswa di Program Doktor Ekonomi Terapan Jl. Hayam Wuruk Bandung , tim ENGAGE berhasil menemui Prof. Nury. Untuk mengenal lebih dalam tentang sosoknya ini dan bagaimana reaksinya terhadap gelar yang baru disandangnya ini, berikut adalah petikan wawancara Tim ENGAGE  dengan Prof. Nury.

Selepas jadi dekan feb Unpad, aktivitas apa yang bapak lakukan?

Alhamdulillah, setelah menjadi dekan aktifitas saya saat ini banyak waktu untuk mengurusi diri sendiri, kembali ke “fitrah” sebagai dosen dalam melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Mengajar, melakukan penelitian semakin intensif dan pengabdian masyarakat. Namun saat ini saya lebih fokus secara intensif pada penelitian, kebetulan unpad dan khususnya feb unpad sedang dalam masa transformasi untuk men-drive para dosen agar lebih banyak melakukan penelitian.

Menurut bapak, apa usaha-usaha dalam meningkatkan penelitian bagi dosen?

Tentu sebagai pribadimengupayakan opportunity bagi dosen khusus aspek funding (pendanaan). Kita harus kreatif mencari peluang-peluang sumber dana itu dan kita tidak bisa melihat sumber dana hanya dari internal Unpad karena itu terbatas. Saya juga  meng-encourage para dosen mencari dana penelitian di dikti. Alhamdulillah saya mendapat penelitian dari BI dengan nama Grant Research BI.

Kabar gembira baru-baru ini kami terima, SK pengangkatan guru besar sudah diterbitkan oleh Kemenristekdikti, bagaimana tanggapan bapak?

Tentu sangat bahagia, pertama dari segi timing. Waktunya sangat pas, raihan guru besar saya jangan ditiru oleh yang muda karena baru diperoleh sudah tua, namun ini berkah bagi saya . Pengumuman saya memperoleh guru besar pada bulan ramadhan dan di idul fitri kemarin ini adalah kado terindah bagi saya. Makana guru besar bagi saya tidak ada bedanya dengan makna dosen pada umumnya. Namun jika ini dibedakan, menjadi guru besar merupakan tanggung jawab yang besar karena tuntutan dari masyarakat semakin besar terutama tuntutan akan adanya perubahan. Tanggung jawab ilmiah yang semakin besar inilah barangkali yang membedakan sebelum dan setelah menjadi guru besar. Jika saya analogikan mirip seperti gelar haji bagi muslim yang melaksanakan ibadah haji ke baitullah, jika sebelum haji ada kebaikan tentu setelah haji kebaikan itu harus meningkat dan bermanfaat bagi masyarakat. Perubahan apa yang sebaiknya dilakukan oleh guru besar , tentu menurut saya engangement  terhadap keilmuan semakin dalam penyebaran atau desiminasi keilmuan membuat masyarakat lebih aware terhadap keilmuan supaya ilmunya lebih bermanfaat bagi masyarakat khususnya bidang ilmu yang digelutinya.

Hal lainnya , seorang guru besar harus lebih fokus dalam pengembangan penelitian. Saya juga mengevaluasi diri saya terhadap ketiga harapan tersebut, mudah-mudahan saya bisa melaksanakannya sehingga keilmuan itu bukan hanya teori namun bisa diaplikasikan.

Upaya-upaya apa saja menurut bapak untuk meningkatkan kompetensi dosen?

Bagi saya upaya untuk meningkatkan kompeetensi dosen adalah dengan engangement ilmiah yang total terhadap keilmuan, punya passionterhadap keilmuannya. Research yang dilakukannya harus sesuai dengan keahlian/kepakarannya.

Saya mendapat gelar guru besar di bidang ekonomi makro dan keuangan, penelitian yang saya lakukan akan fokus pada kedua hal itu, dan itu yang saya namakan dengan engangement secara total artinya mindset , sikap dan tindakan diarahkan pada keilmuan itu. Pendalaman dan pengembangan pada keilmuan lainnya bisa dilakukan jika keilmuan pokoknya  menjadi fokus utama research.

Pada saat pengukuhan guru besar yad , topik apa yang akan bapak sampaikan pada saat orasi ilmiah tersebut? Mengapa topik itu yang disampaikan?

 Terus terang ada beberapa alternatif topik yang akan disampaikan, dari beberapa pilihan mengkerucut pada dua topik. Jika melihat kondisi keuangan global. Evolusi atau revolusi ini bergerak selama 50 tahun terakhir dan bagaimana prospek ekonomi global kedepannya. Selain itu kondisi ekonomi makro dalam negeri, utamanya forcasting dari keuangan indonesia seperti apa dengan hadirnya revolusi industri 4.0 terutama terkait financial technology, adanya perubahan transaksi jual beli yang terjadi di masyarakat dengan hadirnya situs jual beli seperti bukalapak, lazada dan lain sebagainya , apakah itu mengubah tatanan keuangan negara seperti dalam penerimaan pajak, job opportunity, dan seterusnya. Nah kira-kira 2 hal itu yang akan disampaikan . Menyoroti perkembangan ekonomi global juga menarik untuk dicermati , adanya perang dagang antara amerika dan china membawa dampak besar terhadap pertumbuhan ekonomi global, ini perlu diantisipasi oleh bangsa Indonesia.

Saran dan masukan untuk para dosen muda ?

Jaman memang sudah berubah, tahapan perjuangan yang dilakukan oleh dosen cukup panjang dan berat. Saya sangat mengapresiasi dan mensyukuri bahwa kondisinya seperti ini, karena environment seperti itu. Bagi dosen, research adalah hal yang mendasar untuk berkarir. Sebagai dosen mulailah menyukai research seawal mungkin, mulai fokus pada ilmu yang disukainya bisa lebih dari satu hal misalnya menyukai environment economic, perdalam perkembangan keilmuan di bidang itu, pami peikiran tokoh-tokohnya, bagaimana prospek kedepannya. Curahkan energi dan sumber daya terutama pikiran pada bidang itu. Harapan saya dengan usaha-usaha seperti karir dosen hingga menjadi guru besar bisa kurang dari 50 tahun agar waktu pengabdian pada masyarakatnya semakin lama.

Reporter : Dani Wahdani dan Lidya Wulan Sari

Foto : Dani