Dian Masyita, SE. MT,Ph.D : Tokoh Wanita Paling Berpengaruh dalam Bisnis dan Keuangan Islam

Baru-baru ini, salah seorang akademisi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran,  Dian Masyita, SE. MT,Ph.D meraih penghargaan Top 10 Most Influential women in Islamic Business and Finance yang digelar oleh lembaga analisis keuangan asal Inggris ,Cambridge IFA. Penyerahan penghargaan  ini diberikan dalam sebuah ajang  yang diberi nama “The 2nd WOMANi Award Ceremony” di JW Marriot Hotel, Dubai, Uni Emirat Arab, Senin (17/6) lalu.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran Dian Masyita, M.T., PhD., menerima penghargaan “The Top 10 Most Influential Women in Islamic Business & Finance 2019” dari Chairman Womani Prof. Dr. Humayon Dar, dalam acara “The 2nd WOMANi Award Ceremony” di JW Marriot Hotel, Dubai, Senin (17/6) lalu.

Dian panggilan akrabnya,  lahir pada tanggal 28 Juli 1975 di Bukittinggi, Sumatera Barat. Setelah tamat Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA), ia melanjutkan studinya di kota Bandung. Ia masuk pada Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran (UNPAD) Bandung (1993-1997). Kemudian ia mendapat beasiswa URGE dari Bank Dunia melalui DIKTI untuk mengikuti Program Magister Teknik Manajemen Industri (TMI) di Institut Teknologi Bandung (ITB) Bandung (1998-2001) dan lulus dengan tesis berjudul ” Disain Awal Model Sertifikat Wakaf Tunai sebagai Instrumen Alternatif Untuk Pengentasan Kemiskinan di Indonesia menggunakan Metodologi Sistem Dynamics.

Pada tahun 2007 Dian mendapat Stuned Award untuk mengikuti Postgraduate Diploma pada Executive Program ”Financial Management” di Maastricht School of Management (MSM), Netherlands. Kemudian pendidikan terakhirnya dijalani di Islamic Finance Durham University (2007-2012). Saat ini tercatat namanya sebagai Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran dengan spesialisasi pengajaran di bidang Behavior Finance, International Finance Management.

Selain mengajar, ibu dari 2 orang anak ini pun aktif pada kegiatan penelitian bersama dengan berbagai lembaga baik dari dalam maupun luar negeri, aktif juga sebagai Asesor Ban PT , Reviewer LPDP di bidang ekonomi syari’ah, perbankan syari’ah, manajemen syari’ah, ToT, penulis buku hingga pemberi training.

Ditemui disela-sela kesibukannya saat mengikuti persiapan ABEST-21 FEB unpad di Unpad Training Centre (UTC) Bandung, Dian menceritakan pengalamannya mendapatkan penghargaan dari WOMANi kepada reporter ENGANGE. Berikut ini petikan wawancaranya.

Dapatkah ibu menggambarkan suasana saat penyerahan award itu?

Suasana acara penyerahan penghargaan sangat profesional, mungkin karena mereka sudah terbiasa menggelar award semacam itu, dan pada award dua tahun yang lalu presiden Jokowi menerima award ini adalah dengan kategori pemimpin berpengaruh. Penghargaan ini surprise bagi saya karena tidak diberitahukan sebelumnya, panitia memanggil satu per satu penerima penghargaan hingga nama saya dipanggil pada urutan 9, nunggu agak lama karena dipanggil dari urutan 300, namun ada yang tidak hadir jadi bisa di skip. Penghargaan diberikan langsung oleh Prof. Humayon Dar, pendiri WOMANi.

Tahun lalu ibu ada di peringkat 42, Tahun ini peringkat 9, bagaimana perasaan ibu?

Ah itu ma biasa aja , ga ada yang istimewa, karena tahun ini kerjaan saya cukup banyak, dan alhamdulillah itu saya dokumentasikan baik di medsos maupun di linkage. Panitia meminta saya untuk mengirimkan cv (curriculum vitae-red) terbaru saya dan data dukungnya bisa dilihat di medsos seperti facebook. Ini pembelajaran bagi saya agar memiliki portofolio yang tertib dan bisa di upload di medsos, dan itu kayak cv sendiri berupa foto dan video kegiatan, ternyata mereka (panitia awardred) memperhatikan hal itu.

Pesan apa yang mau ibu sampaikan dengan penerima penghargaan ini khusus bagi dosen dan keilmuan ekonomi islam ?

Saya harus meng-update terus menerus dalam melakukan kajian research skala internasional, saya harus rutin menulis, harus rutin meneliti, dan harus benar-benar memiliki kontribusi buat masyarakat. Tujuan award ini menjaga konsistensi dan produktivitas perempuan dalam berkarya, dan itu harus tetap dijaga.

Apa parameter penilaian yang dilakukan oleh Cambridge IFA terhadap ibu khususnya, sehingga ibu bisa terpilih dan mendapatkan award itu?

Parameter penilaian nominator dilihat dari wanita yang memiliki imfact bagi masyarakat dalam bisnis dan keuangan Islam. Hal yang jadi ukuran adalah profesional leadership, advokasi dan dikenal secara luas di industri contohnya industri perbankan, bisnis halal dan lain sebagainya.

Posisi saya di akademis, saingan saya yang terberat adalah UiTM Malaysia. Tahun ini pekerjaan saya banyak sebagai asesor BAN PT, Reviewer LPDP  di bidang Ekonomi Syariah, Perbankan Syariah, Manajemen Syariah dari kemenristekdikti dan kemenag,  2x dalam setahun, jadi impact kita ke daerah banyak sekali. Saya juga buat buku hasil kerjasama dengan Bank Indonesia, dan setiap bulan kita diseminasi ke daerah / provinsi misalnya hari ini ke Jawa Timur, bulan depan ke Jawa Tengah, oleh BI dikumpulkan perguruan tinggi yang memiliki jurusan ekonomi syariah kemudian diadakan sosialisasi terkait buku dengan judul Usaha mikro Islami. Oleh BI kanwil daerah tersebut kami diundang untuk mengajar dan mensosialisasikan buku tersebut.

Jadi tahun 2018, paparan saya kepada dosen-dosen cukup luas seluruh Indonesia, tiap bulan sebagai pemberi training, ToT, Reviewer LPDP bidang Ekonomi, Asesor Ban PT, semuanya itu mereka catat, mereka hitung impact-nya terhadap masyarakat. Mereka seleksi, mereka minta cv terbaru kemudian ada interview saya beberapa pertanyaan, mereka perhatikan kaum wanita di lembaga-lembaga keuangan syariah, prestasi-prestasinya kemudian mereka (perempuan) di Indonesia mengalami diskriminasi tidak.  Semua proses itu menjadi parameter penilaian terhadap saya untuk meraih award ini.

Pandangan ibu terhadap kendala dan tantangan dalam penerapan sistem ekonomi islam di Indonesia?

Sebetulnya kalau SDM sudah banyak di Indonesia itu, persoalannya adalah kultur masyarakat Indonesia menyikapi perbankan saat ini. Perkembangan perbankan di Indonesia relatif konstan, bisnis halal meningkat. Penerimaan masyarakat terhadap Bank Syariah relatif rendah disebabkan kesadaran dan gaya hidup yang konsumtif. Masyarakat lebih menyukai bunga bank dibanding sistem bagi hasil yang ditawarkan bank syariah. Menurut saya solusi terbaik adalah profit lost sharing.

Di FEB Unpad terdapat Program Studi Ekonomi Islam (EKIS), bagaimana menurut ibu kontribusinya pada dunia pendidikan di Indonesia?

Kita mempunyai beberapa dosen Islamic Finance, sayang kalau kita ga punya prodi khusus. Dengan potensi resources ini berpotensi membuka prodi baru dengan SDM yang ada dimana keilmuannya berkembang dan peminatnya sangat tinggi, tahun lalu (2017)peminatnya lebih besar dari IESP. Learning outcomes prodi ekis ini adalah menjadi researchcer, perbankan syariah, riset centre, bisnis halal, aplikasi fintech dan seterusnya. Memberikan peluang cukup umum sehingga mereka bisa masuk kemana-kemana, kalau kita kembangkan dengan baik, mereka bisa sangat melejit, kita akan perkenalkan industri , kita serius untuk itu.

Keinginan apa yang belum dicapai ibu hingga saat ini?

Ga ada lah, saya ingin sukses seperti orang tua saya. Jika kesuksesan saya adalah kesuksesan orang tua saya, maka suksesnya saya pun adalah akan dilihat dari kesuksesan anak-anak saya, berguna untuk banyak orang. Suksesnya orang tua akan teruji saat anak-anaknya berguna bagi orang banyak, pengen punya anak-anak yang sukses, belum teruji, hingga nunggu waktu.

Adapun mimpi saya sebagai akademisi adalah capaian tertinggi yanitu sebagai guru besar/profesor, bagi dosen mengajar, meneliti dan pengabdian masyarakat. Mudah-mudahan ilmunya bermanfaat. Itu yang diajarkan Islam, ilmu bermanfaat akan menjadi amal shaleh bagi kita apabila kita telah tiada.

Adakah saran dan masukan untuk pengelola fakultas khususnya untuk pengembangan pendidikan ekonomi islam?

Masukan buat fakultas agar lebih banyak melakukan kerjasama dengan industri, institusi perbankan, lembaga keuangan, membuat MoU yang tidak sleeping tapi manfaat buat kedua lembaga.

Laporan : Dani Wahdani / Lidya Wulan

Foto   : Dani