Unpad Jalin Kerjasama dengan Uni Eropa dalam Program INTEM EU Program di Indonesia

International Meeting of the EU Project on “Integrated Ecotourism Management in Indonesia (INTEM)” resmi dimulai, Senin (01/4). Kegiatan yang dilaksanakan di Aula Magister Manajemen FEB Unpad itu dihadiri oleh Guru Besar Universiteit Leiden, Belanda Prof L.J Slikkerveer, Rektor Universitas Padjadjaran Prof. Dr. Med. Tri Hanggono Achmad, dr.,M.Si, dan Rektor Universitas Pendidikan Indonesia Prof. DR. HR Asep Kadarohman, M.Si. Hadir juga para dosen dan pengelola dari masing-masing Perguruan Tinggi.

Foto Bersama  Peserta kegiatan International “Kick-Off” Meeting of the EU Project on “Integrated Ecotourism Management in Indonesia (INTEM)” di Aula Magister Manajemen FEB Unpad, Jl. Dipatiukur 46 Bandung,        Senin (01/4)

Rektor Universitas Padjadjaran Prof. Dr. Med. Tri Hanggono Achmad, dr.,M.Si mengatakan kerjasama yang dilakukan dengan mengambil lokasi Jawa Barat sebagai pilot project sangat tepat mengingat peran penting Jabar dalam pembangunan di Indonesia. Jabar dengan jumlah penduduknya yang terbesar tentunya akan memberikan dampak yang besar dan akan mampu memberikan warna di dalam pengembangan pariwisata Indonesia.

“Saya senang dengan penyematan kata eco dalam konsep ini. Karena ini menandakan bahwa tidak hanya mendukung pariwisata tetapi juga kelestarian lingkungan dan alam untuk masa depan. Kita harapkan, program ini akan memberikan dampak positif bagi masyarakat luas, Jabar, Indonesia dan bahkan dunia,” ujarnya.

INTEM EU Program, merupakan kegiatan Capacity Building for Higher Education dari Uni Eropa yang diinisiasi oleh LEAD (Leiden Etnosccience And Development) University Leiden Belanda bersama dengan CIHEAM  dan ASTEK dari Yunani, dan  3 Universitas di Indonesia diantaranya Universitas Padjadjaran, Universitas Pendidikan Indonesia dan Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti, serta Martha Tilaar Foundation dan Indonesian Heritage Society.

Tujuan dari program ini adalah mengembangkan program master dibidang Ecotourism dengan pendekatan terintegrasi. Program ini akan berlangsung selama 3 tahun,  pada tahun pertama akan menyiapkan menu program S2 ini, kemudian pada tahun kedua akan dilakukan Training of Trainer bagi 15 Orang calon Tutor dari 3 Perguruan Tinggi Indonesia di Belanda dan Yunani selama 3 bulan.

Pada tahun ketiga akan dibuka untuk mahasiswa baru baik sebagai konsentrasi atau program Master INTEM utuh di Perguruan Tinggi yang ada. Di Unpad Program ini akan dimasukkan sebagai konsentrasi dari Magister Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

Sementara itu Guru Besar Universiteit Leiden, Belanda Prof L.J Slikkerveer memaparkan saat ini ada sejumlah isu krusial yang harus dipahami dalam sektor pariwisata di Indonesia. Diantaranya kurangnya sumber daya manusia yang terampil, pemanfaatan alam dan sumber dayanya yang belum fokus pada keberlanjutan.

Selain itu, walau di satu sisi sektor pariwisata mampu menarik jumlah wisatawan asing yang tentunya berdampak pada pencapaian devisa dan kontribusi sektor pariwisata terhadap GDP, sektor ini justru mengalami stagnasi. Kondisi tersebut diantaranya karena belum diperhatikannya dampak pengembangan di sektor tersebut terhadap masyarakat lokal, serta belum adanya SDM profesional yang kompeten.

“Pemerintah Indonesia saat ini fokus pada strategi ecotourism yang diharapkan akan mampu menjaga kelestarian alam yang juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat perdesaan. Akan tetapi, hal tersebut gagal dalam melibatkan masyarakat lokal. Oleh karena itu, INTEM merupakan program komprehensif pariwisata berkelanjutan yang menjaga keragaman biodiversity yang juga mengembangkan ekonomi lokal,” katanya.

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unpad Yudi Azis, S.Si.,S.E.,S.Sos.,M.T.,Ph.D mengatakan kolaborasi ini menunjukkan betapa besarnya perhatian dunia pendidikan terhadap perkembangan sektor pariwisata di tanah air. Sebagaimana yang kita ketahui, sejak beberapa waktu terakhir pemerintah Indonesia terus menggenjot perkembangan di sektor ini karena diyakini akan menjadi salah satu tulang punggung utama perekonomian Indonesia pada masa yang akan datang.

Lebih lanjut Yudi menjelaskan bahwa pengembangan sektor pariwisata tentunya tidak dapat hanya fokus pada aspek ekonomi dan bisnis semata. Tetapi juga bagaimana sektor tersebut juga memberikan manfaat bagi masyarakat lokal yang menjadi target dari pengembangan di sektor tersebut. Termasuk juga dampaknya terhadap lingkungan.

“Dengan adanya integrasi ini Diharapkan dalam pengembangan pariwisata tidak hanya menitikberatkan pada aspek ekonomi dan bisnis saja. Tetapi juga pengembangan komunitas dan keberlanjutannya. Sehingga, dengan konsep ini memberikan manfaat positif yang signifikan bagi masyarakat dan juga lingkungan,” katanya.

Laporan : rilis /dw

Foto : Adil Mukti