Rise of Fintech: Antara Inovasi dan Perlindungan Konsumen

Seminar Transformation Series memasuki tahap 2 (dua) digelar pada Sabtu (6/10) dengan mengambil tema “Rise of Fintech : Achieving a Balance Between Innovation and Consumer Protection”. Mengedepankan tema perlindungan konsumen namun tidak melupakan inovasi teknologi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah berupaya menyelaraskan keduanya agar sinergi.

“Saat ini terutama bagi generasi milenial, perkembangan digital bukan lagi menjadi kebutuhan namun sebuah konsekuensi yang harus diterima sebagai suatu hal yang tidak bisa dihindarkan. Menurut analisa demografi pada 2030, 180 juta penduduk Indonesia berada dalam usia produktif”, ungkap Kepala Otoritas Jasa Keuangan Regional II Jawa Barat, Sarwono. Hal ini diamini oleh Hendra Hermawan Ketua Ikatan Alumni Magister Manejemen yang sekaligus menjadi Ketua Panitia acara tersebut.

Selanjutnya Tirta Segara, anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menjadi keynote speech memaparkan bahwa fintech saat ini sudah berpurwa rupa menjadi berbagai macam produk, semisal bitcoin, Mbanking, gopay, online trading saham, marketplace, e-commerce, right sharing provider, peer to peer landing. OJK berperan besar dalam melakukan pengaturan dan pengawasan terhadap jasa keuangan agar keseluruhan kegiatan di sektor jasa keuangan terselenggara secara teratur, adil, transparan, dan akuntabel; mampu mewujudkan sistem keuangan yang tumbuh secara berkelanjutan dan stabil; serta, mampu melindungi kepentingan konsumen dan masyarakat.

Fintech perlu guiding principle yang kuat, dan yang paling penting antara fintech dan konsumen yakni adanya transparansi. Hingga saat ini, pengguna fintech mencapai 67,8%-75% namun yang memahami hal tersebut hanya sekitar 25%, disinilah tugas OJK untuk mengedukasi dan meliterasi masyarakat.

Tirta Segara menambahkan contoh dari entitas yang tidak berinovasi, Nokia, CEO Nokia mengatakan “Padahal perusahaan kami tidak melakukan kesalahan apa-apa. Kami bekerja seperti biasa.” Namun justru itulah kesalahan Nokia, karena bekerja seperti biasa dan tidak berinovasi. Lalu Sony, Sony tidak terbiasa menerima saran dari bawahan atau pemuda-pemudanya, sehingga tidak mengikuti jaman, para tetuanya merasa nyaman dengan apa yang telah mereka lakukan.

Laporan: Dadang Supriatna/lws