Yudi Azis: Pertemuan Ikhtiar dan Peluang

Jika anda ingin memanfaatkan waktu anda sebaik mungkin, anda harus mengetahui hal-hal yang menjadi prioritas anda dan melakukan yang terbaik untuk mencapainya (Lee Iacocca, 1924)

Kata bijak dari CEO Chrysler yang juga penulis dari sejumlah buku terlaris ini menunjukkan betapa penting dan strategisnya bagi setiap individu untuk dapat membaca serta memahami mana hal yang menjadi prioritas.

Pasalnya, kemampuan menentukan prioritas merupakan salah satu aspek yang dapat mengantarkan seseorang untuk mencapai kesuksesan. Makanya tak mengherankan jika kita cukup sering menemukan artikel ataupun tulisan yang memuat kiat menentukan prioritas manakala semua pekerjaan dirasa penting.

Betapa pentingnya menyusun prioritas didalam pekerjaan juga diamini Yudi Azis (39). Pria yang kini menakhodai Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Padjadjaran tersebut tak menampik jika penentuan skala prioritas merupakan salah satu kunci penting yang mengantarkannya ke posisi dekan dalam usia yang masih terbilang muda.

Ditemui di Gedung FEB Unpad, Jalan Dipati Ukur, wartawan “PR” Yulistyne Kasumaningrum dan fotografer Ade Bayu Indra berkesempatan berbincang dengan pria yang saat ini juga mengemban tugas sebagai Ketua Bidang Akreditasi di Asosiasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Indonesia (AFEBI), belum lama ini. Kisah bagaimana tangga kesuksesan ditapaki menjadi pembuka obrolan singkat di kala senja itu.

Setelah menanggalkan seragam putih abu, Yudi sempat melakoni menjadi mahasiswa di dua perguruan tinggi negeri bergengsi, yakni di Fisika ITB dan Manajemen Unpad, pada dua angkatan yang berbeda. Pasca menyelesaikan studi sarjana di ITB, ia meneruskan pendidikannya ke magister Teknik dan Manajemen Industri ITB yang membuatnya kembali melakoni dua perkuliahan.

“Jadi kerjaan saya waktu itu, ya ujian lagi ujian lagi. Tapi tetap masih bisa gaul kok,” ujarnya lalu tertawa.

Tak mudah memang melakoni situasi tersebut, tatkala sebagian besar mahasiswa hanya menjalani 20-24 SKS dalam satu semester, maka Yudi bisa menjalani hingga lebih dari 40 SKS dalam satu semester yang berarti dua kali lipat lebih banyak dari biasanya. Bahkan, ia pun bergabung dalam kegiatan organisasi kemahasiswaan.

Ibarat dua sisi mata uang, perjalanan tersebut tentunya menuai dua konsekuensi. Pada satu sisi akibat padatnya jadwal, ia kerap berurusan dengan dokter karena mesti menjalani rawat inap akibat kesehatan yang menurun.

Disisi lain ketatnya jadwal memberikan pelajaran yang sangat berharga. Dikatakannya, untuk mensiasati kondisi tersebut ia jadi belajar memperhatikan dan memahami sebuah proses, melihat tingkat urgensi sesuatu hal, dan kemudian menyusun skala prioritasnya. Yang tak kalah penting, ia belajar untuk berkomitmen menyelesaikan segala sesuatu yang telah dimulai dengan sebaik mungkin.

Hal yang didapatkan selama proses pembelajaran tersebut, menurut Yudi, menjadi satu modal penting saat ia menapaki jalan sebagai seorang akademisi pada 2002 lalu. Ia menjadi terbiasa untuk memilah, melihat tujuan, dan bagaimana proses untuk mencapai tujuan tersebut serta melakukan sesuatu secara efektif dan efisien.

“Tidak mudah memang, tapi dalam proses tersebut saya belajar untuk memanage waktu dan melihat mana yang betul-betul penting, mana yang harus diprioritaskan. Mana yang penting, urgen, nice to have. Mana yang harus sempurna, mana yang tolerable. Selalu melihat dalam konteks tersebut,” katanya.

Berbekal modal tersebut, Yudi tak jarang mampu berjalan selangkah lebih cepat dibandingkan dengan kolega seangkatannya. Meski proses dan tahapan yang dilalui tidak berbeda dengan yang lainnnya.

“Sebetulnya apa yang saya jalani saat ini, merupakan pertemuan dari berbagai proses, ikhitiar yang dijalani dengan peluang yang datang. Tanpa ikhtiar, peluang yang datang bisa jadi terlewat. Sedangkan tanpa peluang, ikhtiar yang dilakukan pun tidak akan jadi. Nah ketika kedua hal ini bertemu, itulah yang namanya destiny,” ujar pria yang memilih menikmati film di bioskop sebagai penghilang penat.

Mengenai destiny, Yudi punya kisah. Kala itu ia mendapati seorang rekannya tengah serius mengisi formulir beasiswa Monbukagakusho yang sudah sejak lama ia cari. Mengetahui hal tersebut ia kemudian memohon ijin kepada temannya itu agar diajarkan prosesnya dan diperkenankan ikut mendaftar.

Yudi dan rekannya tersebut kemudian menuju Kedutaan Besar Jepang di Jakarta untuk mendaftar. Saat itu hanya tersisa 2 hari sebelum batas akhir penyerahan aplikasi beasiswa. Beruntung, ia telah mempersiapkan semua dokumen yang dibutuhkan. Hanya memang ia belum sempat mempersiapkan proposal risetnya.

“Saat itu, prinsipnya yang penting jadi dulu, meski tidak sempurna. Karena kalau tidak submit kan gagal, jadi yang penting submit dulu,” katanya.

Berselang beberapa pekan, Yudi pun menerima kabar baik bahwa ia lolos seleksi administrasi. Sayangnya temannya tidak. Sontak, kabar yang semestinya menggembirakan tersebut membuatnya tak enak hati.

Beruntung sang teman langsung memberikan penjelasan karena ternyata sebetulnya ia telah masuk daftar tunggu penerima beasiswa yang sama dari periode sebelumnya. Namun, karena tak ingin menunggu lama, ia pun mengajukan kembali.  Berselang beberapa saat setelah mendaftar bersama Yudi, rekannya itu mendapatkan kabar bahwa daftar tunggunya naik sehingga ia diberangkatkan sebagai penerima beasiswa dari periode sebelumnya.

“Disana saya meminta maaf, jangan-jangan teman saya ini pending karena harus menemani saya dulu. Coba kalau dia tidak waiting list dan sudah berangkat duluan, saya mungkin tidak daftar. Berkaca dari kejadian, saya yakin itu merupakan skenario dari Yang Maha Kuasa, bahwa ada desain yang diluar control kita,” katanya.

Disinggung mengenai respon sekeliling terhadap pencapaiannya yang relatif lebih cepat dan memungkinkan munculnya isu sumir, Yudi mengaku tak terlalu mengkhawatirkannya. Baginya dalam hidup ini ada aspek yang bisa dikontrol dan yang tidak bisa dikontrol. Aspek yang tak bisa dikontrol itu  diantaranya pikiran, pendapat, ataupun perkataan orang lain karena hal tersebut berhubungan dengan background, persepsi, dan kemampuan dari seseorang.

Oleh karena itu, kata Yudi melanjutkan, agar bisa maju yang perlu menjadi fokus adalah aspek yang secara pribadi kita mampu mengontrolnya. Seperti bagaimana mengontrol respon terhadap apa yang dikatakan orang lain mengenai kita dan meyakinkan diri bahwa yang kita lakukan tidak menyalahi aturan.

Meski demikian, bukan berarti tidak terbuka menerima masukan, Yudi lebih memilih jalan yang tenang seraya berlatih mengasah kemampuannya.

Feedback tetap diterima, yang berarti seseorang masih memerhatikan kita. Tapi tidak berarti harus selalu khawatir, karena akan negatif energinya dan itu akan melelahkan. Berpikir positif saja, misalnya kalau diejek berarti kita sudah menjadi pusat perhatian, positifnya lagi kita sudah membuat orang lain senang. Nah, bisa tidak melawan ego kita sendiri,” tuturnya.

Harapan Kedepan

Mengenai harapan kedepan yang ingin ia wujudkan, Yudi menuturkan pada satu sisi masih cukup banyak tantangan yang dihadapi bangsa ini. Di sisi lain kondisi itu menunjukkan bahwa ruang improvement yang tersedia masih begitu besar. Melihat kondisi tersebut, ia berharap mampu berkontribusi melalui optimalisasi peran dunia pendidikan untuk menghembuskan angin positif bagi pencapaian hakikat dari pembangunan, yakni terwujudnya kesejahteraan masyarakat.

“Potensi kita ini besar namun masih belum sebesar yang kita harapkan, makanya peluang untuk meningkatkan semakin besar. Harapannya pendidikan bisa dioptimalkan impactnya kepada masyarakat. Dengan demikian, nilai pendidikan tidak hanya didalam kampus tapi juga dirasakan manfaatnya  secara umum, baik keluarga, masyarakat, maupun negara. Tentunya dengan seluruh stakeholder bergandengan tangan, karena membangun Indonesia yang besar ini saling membutuhkan,” ujarnya. ***  (Wartawan: Yulistyne Kasumaningrum, Fotografer: Ade Bayu Indra )

Biodata

Nama : Yudi Azis, S.E., S.Si., S.Sos., M.T., Ph.D
Jabatan : Dekan FEB Unpad
Pendidikan –  (S.Si) S1 Fisika ITB (1996-2000)
–  (S.E) S1 Manajemen FEB Unpad (1997-2002)
–  (S.Sos) S1 Ilmu Komunikasi UT (2001-2005)
–  (M.T) S2 Teknik dan Manajemen Industri ITB (2000-2002)
–  (Ph.D) S3 Manajemen Inovasi Tokyo Institute of Technology (2009-2012)
– Beasiswa Monbukagakusho Pemerintah Jepang
Pengalaman Pekerjaan – Dosen PNS FEB Unpad (Desember 2002 – sekarang)
– Peneliti Lab. Manajemen FEB Unpad (Desember 2002 – sekarang)
– Kaprodi Bisnis Internasional d3 PAAP FEB Unpad (2007-2008)
– Research Assistance Tokyo Institute of Technology (2008-2009)
– Sekretaris Quality Assurance FEB Unpad (2012-2013)
– Staf Khusus Bidang Internasional MM FEB Unpad (2013-2014)
– Sekprodi Magister Manajemen FEB Unpad (2014-2016)
– Wakil Dekan FEB Unpad (2016-2018)
Pengalaman Organisasi – Wakil Sekretaris ISEI Komisariat Bandung Koordinator Jawa Barat (2004-2007)
– Sekretaris Tim Pokja Kadin Kota Bandung (2007)
– Ketua Bidang Akreditasi, Asosiasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Indonesia (AFEBI) (2018-sekarang)
– Peer Review Team (Asesor) Akreditasi Internasional ABEST 21 Jepang untuk Universitas Jepang dan Indonesia (2014-sekarang)
– Anggota forum pengembangan kewirausahaan kota Bandung (2017-sekarang)

Sumber: Harian Pikiran Rakyat, 16 September 2018