Arie Pratama, SE, M.Ak, CPSAK, CPA Raih 2 Penghargaan Internasional di Malaysia

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran  Arie Pratama, SE, M.Ak, CPSAK, CPA menyabet 2 penghargaan pada ajang Internasional “1st Scientia Academia Conference on Management, Entrepreneurship, and Social Sciences (SAC-MESS 2019)” di kampus Universiti Teknologi Malaysia, Kuala Lumpur Malaysia, Sabtu (06/04). Konferensi Internasional ini dihadiri oleh lebih dari 100 orang peserta dari berbagai negara diantara Malaysia, Indonesia, Thailand, Taiwan, Singapura, Nigeria, Arab Saudi, Oman dan India.

2 penghargaan itu adalah SAC-MESS Best Paper Award dan SAC-MESS Best Presenter Award. Untuk penghargaan SAC-MESS Best Paper Award diberikan kepada Arie atas presentasi risetnya yang berjudul “Taxpayers Morale and Tax Amnesty Participations: Survey on The Individual Taxpayer in Sukabumi, West Java, Indonesia”. Menurut Arie, risetnya ini terkait dengan riset payung tentang Tax Amnesty (Pengampunan Pajak). Sebagai dosen dan peneliti di bidang perpajakan Arie sangat menaruh perhatian yang besar terhadap Tax Amnesty karena Tax Amnesty ini program yang jarang dilakukan pemerintah tapi menjadi pusat perhatian berbagai pihak baik individu maupun badan wajib pajak.

Pada prinsipnya pengampunan pajak itu bersifat sukarela sehingga pengampunan pajak ini bisa diikuti ataupun tidak oleh wajib pajak. Sangat menarik untuk dicermati dan diteliti motivasi individu atau masyarakat untuk mengikuti program pengampunan pajak ini. Ungkap Arie, saat ditemui Reporter ENGAGE di ruang Pusat Studi Akuntansi Gedung Knowledge Center Unpad – Pertamina Jl. Dipatiukur 35 Bandung.

Jadi ada beberapa wajib pajak baik pribadi/badan dan mereka mempunyai kecenderungan untuk ikut serta dalam Tax Amnesty, salah satunya adalah terkait moralitas. Hasil risetnya menurut Arie, menujukkan aspek moralitas inilah yang mendorong seseorang untuk melakukan Tax Amnesty. Moralitas seseorang  semakin tinggi maka kecenderungan untuk berperan aktif  dalam Tax Amnesty semakin besar. Intinya program pajak ini akan diikuti dan berhasil jika moralitas wajib pajak itu sudah lebih baik.

Lebih lanjut Arie mengatakan bahwa moralitas yang dimaksud adalah bagaimana sesorang memandang suatu tindakan berdasarkan norma yang ada. Seseorang dianggap bermoral tinggi jika memasukkan tindakan yang baik dan mentransformasikan dalam kehidupannya dan sebaliknya dianggap moralitas rendah bila perilakunya kurang  baik. Dalam penelitian ini moralitas dibagi 3 dimensi antara lain identitas moralitas, Keberanian secara Moral, dan Aktualisasi secara moral. Hasilnya menunjukkan rata-rata moralitas wajib pajak cukup baik, namun dari dimensi keberanian wajib pajak kurang baik atau bersifat netral, hal ini disebabkan keputusan wajib pajak dipengaruhi lingkungan sekitarnya. Jika wajib pajak berada dalam lingkungan yang kurang baik moralitasnya maka cenderung wajib pajak ini tidak berani untuk berperan aktif dalam program tax amnesty ini.

Terkait biaya penelitian semuanya dilakukan secara mandiri tidak ada bantuan dari lembaga manapun termasuk dari Universitas Padjadjaran. Rencananya hasil riset ini akan diterbitkan pada jurnal internasional bereputasi  yang terindeks scopus dan ISI Thomson.

Ditanya kiat-kiat keberhasilannya menyabet 2 penghargaan internasional itu, dosen yang dikenal humoris dan selalu ramah  itu mengungkapkan untuk menjadi best paper sebaiknya paper dipersiapkan secara matang, penuhi kaidah-kaidah ilmiah yang berlaku dalam konferensi itu, dan penggunaan bahasa inggris ilmiah yang bisa dipahami oleh para reviewer secara luas. Selain itu, kemampuan menulis yang baik juga harus diikuti dengan kemampuan menyampaikan yang baik, penguasaan bahasa inggris, menampilkan ide dalam slide yang singkat dan menarik, serta penampilan yang apik sangat menentukan keberhasilan seseorang dalam mengikuti sebuah konferensi internasional.

“Memang untuk seperti itu tidak mudah, butuh keberanian untuk tampil di konferensi level internasional dan beberapa dosen belum  terbiasa kayaknya untuk itu, karenanya saya berharap kegiatan pelatihan atau workshop di internal kampus harus sering  dilakukan, terus terang itu sangat membantu kami”, ungkap Arie.

Laporan : Dani Wahdani/lws

Foto : Adil Mukti/Lidya Wulan