FEB Unpad Bekerjasama dengan Universiteit Leiden Gelar Seminar Internasional

Program Studi Magister Manajemen Keuangan Mikro Terpadu (MMKmT) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Padjadjaran menggelar Seminar Internasional Integrated Microfinance Management (IMM) yang mengambil tema “IMM on 4.0 Industrial Revolution”, di Aula MM, Jalan Dipati Ukur  Sabtu (3/11/2018). Seminar ini dibuka oleh Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unpad Yudi Azis, S.Si., SE., S.Sos., MT., Ph.D.

Dekan FEB Unpad Yudi Azis, S.Si., SE., S.Sos., MT., Ph.D. saat memberikan sambutan sekaligus membuka Seminar Internasional Integrated Microfinance Management (IMM) denganl tema “IMM on 4.0 Industrial Revolution”, di Aula MM, Jalan Dipati Ukur  Sabtu (3/11/2018).(Foto : Adil Mukti)

Kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian dari International Workshop yang digelar oleh MKmT FEB Unpad mulai 29 Oktober sampai dengan 9 November 2018 bekerjasama dengan Universiteit Leiden, Belanda.

Hadir sebagai pembicara Direktur Leiden Ethnosystem And Development (LEAD) Programme Prof. Dr. Dr (HC) L. Jan Slikkerveer, CEO Kuelap –perusahaan konsultan IT microfinance institution berbasis di Seattle– Craig Chelius, Director Innovation and Partnership Kuelap Luisa Martinez, Ketua Pengurus Koperasi Mitra Dhuafa (Komida) Slamet Riyadi M.MKMT, Akademisi Unpad Dr. Asep Mulyana, dan bertindak sebagai moderator Harlan Dimas, MA.

Dari kegiatan tersebut terungkap pemanfaatan teknologi didalam setiap lini kehidupan pada era revolusi industri 4.0 menjadi suatu keniscayaan, terutama pada sektor keuangan, bisnis, dan pembangunan. Namun, untuk dapat meningkatkan inklusi keuangan masyarakat, khususnya pada masyarakat miskin, penggunaan teknologi perlu mempertimbangkan kondisi kultural yang melingkupinya. Dalam hal ini sentuhan manusia masih menjadi kunci penting untuk mewujudkan pembangunan yang inklusif.

Institusi keuangan mikro, yang menjadi salah satu ujung tombak pembangunan dan pengentasan kemiskinan, diharapkan kembali fokus pada penanggulangan kemiskinan dengan tanpa mengabaikan pemberdayaan komunitas dan pengetahuan lokal. Termasuk mempertimbangkan karakteristik masyarakat miskin di perkotaan dan perdesaan.

Oleh karena itu, pemanfaatan kemajuan teknologi untuk efisiensi transaksi keuangan mikro seperti fintech diharapkan tidak hanya fokus pada efisiensi teknis dan operasional sebagaimana yang seringkali dijadikan andalan. Namun juga dalam konteks sosial saat teknologi akan dipergunakan.

Seperti dicontohkan Grameen Bank di Bangladesh maupun Koperasi Mitra Dhuafa (Komida) di Indonesia yang memfokuskan pada peran perempuan sebagai agen perubahan dalam pengentasan kemiskinan dan pembangunan di masyarakat lokal.

Ketua Program Studi Magister MKmT Dr. Arief Helmi mengatakan kegiatan yang merupakan inisiatif dari mahasiswa tersebut merupakan salah satu cara untuk meyakinkan agar jangan sampai ada masyarakat yang tertinggal di era revolusi industri 4.0. Pasalnya hanya sedikit masyarakat miskin yang bersentuhan dengan teknologi informasi, sedangkan pada era revolusi industri 4.0 teknologi informasi menjadi tumpuan utama.

“Kita mencoba mendiskusikan bagaimana agar kemajuan teknologi tidak meninggalkan masyarakat miskin menjadi tidak tertolong sama sekali,” ujarnya.

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Yudi Azis menyampaikan apresiasi positifnya atas kegiatan yang dilakukan. Apalagi kegiatan ini kian mengukuhkan hubungan dan kerjasama yang selama ini telah terjalin dengan baik antara FEB Upad, khususnya Program Studi Manajemen Keuangan Mikro Terpadu (MKmT), dengan Universiteit Leiden, Belanda.

“MKmT merupakan salah satu prodi di FEB yang memiliki keunikan tersendiri. Paradigma bottom-up, pemberdayaan komunitas, dan pengetahuan lokal yang menjadi titik berat prodi ini diharapkan akan mampu memberikan kontribusi bagi pembangunan di tanah air,” ucapnya.

Prodi MKmT dikembangkan oleh Program Etnosistem dan Pengembangan Leiden (The Leiden Ethnosystems and Development Programme – LEAD) dari Universiteit Leiden di Belanda bekerjasama dengan Unpad dan para Anggota Konsorsium Internasional untuk Manajemen Keuangan Mikro Terpadu (The International Consortium for Integrated Microfinance Management – ICIMM), termasuk di dalamnya Gerakan Masyarakat Pengembangan Keuangan Mikro (GEMA PKM) di Indonesia dan Institut Agronomi Mediterania Chania (The Mediterranean Agronomic Institute of Chania – MAICH) di Yunani.

LEAD adalah sebuah program lintas disiplin ilmu di bawah Fakultas Sains Universitas Leiden dan merupakan salah satu anggota Dewan Puncak Kredit Mikro dari Lembaga-Lembaga Pendidikan. LEAD telah terlibat sejak 1987 di beberapa program pelatihan dan penelitian berbasis kebijakan, seperti di Sub-Sahara Afrika, Asia Tenggara dan Mediterania, dimana fokusnya adalah pada pengelolaan keuangan mikro yang terintegrasi serta manajemen pendidikan tinggi sesuai dengan budaya. (***)

 

Rilis: MKmT FEB Unpad/dw-lws