Unpad Usulkan Kolaborasi Pentahelik Solusi bagi Industri Penerbangan di Era Normal Baru

“Di era normal baru ini yang terjadi adalah kurangnya koordinasi pihak yang terlibat di industri ini, baik itu dari pemerintah, kalangan bisnis, akademisi dan komunitas, makanya saya menekankan based on pentahelix collaboration”

Demikian diungkapkan oleh Guru Besar FEB Unpad Prof. Dr. Ernie Tisnawati Sule dalam webinar bertajuk “Industri Penerbangan Komersial Pasca Covid-19″ melalui media zoom, Senin(18/5).

“Industri penerbangan harus adaptasi lebih cepat dengan keadaan yang terjadi, agar bisa secepatnya bangkit ditengah keterpurukan saat ini” tambahnya.

Webinar yang digelar oleh Pusat Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran menghadirkan beberapa nara sumber antara lain Dr. Muhamad Awwaludin (Direktur Angkasa Pura II) , Dr. Soeharto Abdul Madjid (Dosen Institut Transportasi dan Logistik Trisakti) dan Prof. Dr. Ernie Tisnawati Sule SE,MS ( Guru Besar FEB Unpad).

“Suasana webinar Pusat Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran yang bertajuk “Industri Penerbangan Komersial Pasca Covid-19″ melalui media zoom, Senin(18/5).

Dr. Umi Kaltum selaku Kepala Pusat Studi Manajemen dalam pembukaan webinar mengatakan bahwa  industri penerbangan internasional tidak akan kembali ke level normal setidakya sampai tahun 2023.

“Kerugian industri penerbangan internasional di masa covid-19 diperkirakan sebesar 7800 triliun, dan untuk kembali ke level normal setidaknya hingga 2023” ujarnya.

Pendapat Umi Kaltum itu mengacu pada data industri penerbangan secara global,  International Air Transport Association (IATA) yang memprediksi kuartal ketiga tahun ini menjadi tolak awal pemulihan penerbangan domestik dengan catatan situasi kondusif. Pemulihan penerbangan internasional diperkirakan memerlukan waktu lebih lama.

Maskapai penerbangan dan operator bandara terdampak serius akibat pandemi Covid-19. Berkurangnya frekuensi penerbangan terjadwal secara drastis dalam dua bulan terakhir tanpa kejelasan waktu mengakibatkan banyak kru pesawat dirumahkan. Pemotongan gaji hingga PHK tampil sebagai opsi.

Menanggapi fenomena global tersebut, Direktur Angkasa Pura II Dr. Muhamad Awaludin menegaskan tidak ada pemotongan gaji maupun PHK bagi karyawannya. Perampingan struktur organisasi menjadi jalan keluar .

Lebih lanjut Awaludin mengatakan bahwa dewasa ini banyak negara telah menutup atau mengurangi frekuensi penerbangan internasional guna menekan penyebaran virus corona.  Beberapa negara, salah satunya Australia, bahkan mempertimbangkan hingga akhir tahun. Berkaca dari kebijakan tersebut, upaya pemulihan industri penerbangan global akan bertumpu kepada penerbangan domestik.

Awaluddin menambahkan jumlah penumpang pesawat di 19 bandara perseroan pada tahun ini pada awalnya diperkirakan mencapai 93,92 juta penumpang.

“Namun kemudian terjadi pandemi global COVID-19, dan dengan melihat tren yang ada serta mempertimbangkan situasi, kondisi, perkembangan di industri serta kebijakan regulator, diperkirakan jumlah penumpang tidak akan mencapai 93,92 juta penumpang,” paparnya.

“Kami menetapkan ada 3 skenario sebagai dasar dalam menjalankan strategi di tengah pandemi ini. Skenario tersebut adalah Best Scenario, Bad Scenario dan Worst Scenario,” jelas Muhammad Awaluddin .

Muhammad Awaluddin yang juga alumni Feb Unpad ini kembali menjelaskan pada Best Scenario diperkirakan jumlah penumpang pesawat di 19 bandara mencapai 68,22 juta penumpang atau lebih rendah 27% dibandingkan dengan perkiraan awal, sementara itu pada Bad Scenario bisa sebanyak 63,49 juta penumpang atau lebih rendah 32% dari perkiraan awal, dan pada Worst Scenario jumlah penumpang kemungkinan 57,80 juta penumpang atau lebih rendah 38,45% dari perkiraan awal. Perkiraan jumlah penumpang berdasarkan 3 kriteria diatas didasarkan pada periode berakhirnya pandemi, kecepatan recovery industri aviasi dan periode normal yang ditandai dengan kondisi ekonomi yang sudah kembali stabil.

Adapun dalam menghadapi tantangan COVID-19 ini PT Angkasa Pura II telah menetapkan strategi mitigasi risiko yaitu Business Continuity Management yang terdiri dari 3 fase yaitu Business Survival, Business Recovery, dan Business Sustainability.

Nara sumber lainnya adalah Dr. Soeharo Abdul Madjid sebagai Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia Bidang Advokasi Kemasyarakatan, Edukasi Dan Pemberdayaan, Hukum-Regulasi Transfortasi. Soeharto mengatakan bahwa sektor transportasi khususnya industri transportasi udara/penerbangan merupakan industri yang didukung oleh industri lainnya .

“Sektor penerbangan tidak bisa hidup sendirian ia bergandengan mesra dengan perdagangan dan industri pariwisata. Pariwisata dan perdagangan tanpa didukung oleh transportasi adalah nonsens.”ungkapnya.

“Uniknya industri ini sangat sensitif dengan isu-isu keamanan, politik, dan wabah penyakit, seperti MERS, SARS, Flu Burung, Bom Bali, dan sebagainya”tambahnya.

Lebih lanjut Soeharto menambahkan bahwa agar dapat bertahan dan bahkan keluar sebagai pemenang setelah krisis ini berlalu, perusahaan disarankan untuk melakukan tiga hal. Strategic team alignment., mengembangkan business continuity plan dan pembentukan crisis management office .

Laporan oleh Dani Wahdani